NEGRI INI BUTUH KALIMAT LAA ILAAHA ILLA ALLAH


Mutiara Hadits 1037

NEGRI INI BUTUH KALIMAT LAA ILAAHA ILLA ALLAH

Tiada henti lisan ini berucap istighfar sekaligus mengutuk ketika ada orang ngaku Islam menghina bahkan membakar kalimat Laa Ilaaha Illa Allah.
Apa kalian tuli buta dan tak punya hati, bahwa dengan kalimat itulah seluruh Alam dan Makhluk dihidupkan, dipelihara, diberi rejeki dan rakhmat bahkan kucuran nikmat yang kalian tak mampu menghitungnya, belum lagi kelak diakhirat dengan kalimat itulah kalian selamat dari siksa yang maha dasyat, tapi kenapa kalian begitu angkuh dan sombongnya ketika kalian makhluk hina berlagak seperti layaknya fir'aun, padahal dia penguasa bengis tak sebodoh dan seberani kalian menghina Allah Ta'ala.

Asal kalian tau bahwa hamba Allah Ta'ala paling mulia yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghiba dengan kalimat itu demi cintanya kepada pamannya Abu Thalib.

Dari Said bin al-Musayyib rahimahullah dari ayahnya, ayahnya berkata, “Kala Abu Thalib telah dekat dengan ajal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang menemuinya. Saat itu, telah ada di sisi Abu Thalib, Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah bin al-Mughirah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

أَيْ عَمِّ، قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللهِ.

“Paman, ucapkanlah laa ilaaha illallaah. Sebuah kalimat yang nanti akan kubela engkau di hadapan Allah.”

Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah tidak membiarkan teman mereka ini ingkar dengan ajaran nenek moyang. Keduanya mengatakan,

أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ؟

“Apakah engkau membenci agamanya Abdul Muthalib?”

Rasulullah terus mendakwahi pamannya. Tapi selalu ditimpali oleh kedua gembong kemusyrikan ini. Akhirnya Abu Thalib menutup seruan-seruan itu dengan ucapan, “Di atas agamanya Abdul Muthalib.” Ia enggan mengucapkan laa ilaah illallah.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«وَاللَّهِ لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ»

“Demi Allah, sungguh aku akan memohonkan ampunan untukmu selama aku tidak dilarang.”

Kemudian Allah menurunkan firman-Nya,

﴿مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ﴾

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 113)

Tentang Abu Thalib, Allah turunkan ayat pula kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

﴿إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ﴾

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Qasas 28: Ayat 56)

Kisah ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Kitab at-Tafsir, Suratul Qashash (4494). Dan Muslim dalam Kitabul Iman, Bab Awwalul Iman Qaulu: Laa ilaaha illallaah (24).

Mari perhatikan lagi tentang betapa mulianya dan betapa agungnya kalimat ini, sampai sampai dosa yang berlipat lipat bisa terhapus dengan kalimat  Laa Ilaaha Illa Allah.
Hadits berikut disebut dengan hadits bitoqoh. Bitoqoh adalah catatan amalan yang berisi kalimat mulia ‘laa ilaha illallah’. Ketika kalimat mulia ini ditimbang dengan 99 kartu catatan dosa yang tiap kartu jika dibentangkan sejauh mata memandang, ternyata lebih berat kalimat ‘laa ilaha illallah’. Hal ini menandakan mulianya kalimat tersebut, begitu pula menunjukkan mulianya orang yang bertauhid dan meninggalkan kesyirikan.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ فَيُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلاًّ كُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَلْ تُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا فَيَقُولُ لاَ يَا رَبِّ فَيَقُولُ أَظَلَمَتْكَ كَتَبَتِى الْحَافِظُونَ ثُمَّ يَقُولُ أَلَكَ عُذْرٌ أَلَكَ حَسَنَةٌ فَيُهَابُ الرَّجُلُ فَيَقُولُ لاَ. فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَاتٍ وَإِنَّهُ لاَ ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ قَالَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلاَّتِ فَيَقُولُ إِنَّكَ لاَ تُظْلَمُ. فَتُوضَعُ السِّجِلاَّتُ فِى كِفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِى كِفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلاَّتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ

“Ada seseorang yang terpilih dari umatku pada hari kiamat dari kebanyakan orang ketika itu, lalu dibentangkan kartu catatan amalnya yang berjumlah 99 kartu. Setiap kartu jika dibentangkan sejauh mata memandang. Kemudian Allah menanyakan padanya, “Apakah engkau mengingkari sedikit pun dari catatanmu ini?” Ia menjawab, “Tidak sama sekali wahai Rabbku.” Allah bertanya lagi, “Apakah yang mencatat hal ini berbuat zholim padamu?” Lalu ditanyakan pula, “Apakah engkau punya uzur atau ada kebaikan di sisimu?” Dipanggillah laki-laki tersebut dan ia berkata, “Tidak.” Allah pun berfirman, “Sesungguhnya ada kebaikanmu yang masih kami catat. Sehingga kamu tidak termasuk orang zalim pada hari ini.” Lantas dikeluarkanlah satu bitoqoh (kartu sakti) yang bertuliskan syahadat ‘laa ilaha ilallah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rosulullah’. Lalu ia bertanya, “Apa kartu ini yang bersama dengan catatan-catatanku yang penuh dosa tadi?” Allah berkata padanya, “Sesungguhnya engkau tidaklah zalim.” Lantas diletakkanlah kartu-kartu dosa di salah satu daun timbangan dan kartu ampuh ‘laa ilaha illallah’ di daun timbangan lainnya.Ternyata daun timbangan penuh dosa tersebut terkalahkan dengan beratnya kartu ampuh ‘laa ilaha illalah’ tadi. (HR. Ibnu Majah no. 4300, Tirmidzi no. 2639 dan Ahmad 2: 213)

Melihat kenyataan yang demikian apakah kalian manusia bodoh lagi sombong masih berani melakukan penghinaan terhadap kalimat mulia ini, walau dengan berbagai macam dalih dan alasan apapun kalian berusaha mengelak...Ingat bahwa pengadilan Allah Ta'ala teramat sangat berat, walau kalian merasa seolah sudah selamat dari dunia.
Wallahu a'lam
#AbuMiQdam/AkhlaqMulia#
Previous
Next Post »

Archive